Sabtu, 10 November 2012

Guru, Karenamu Telah Kutemukan ‘Substansi’ Belajar


Prolog
Tepat 6 tahun yang lalu, saya duduk dibangku SMA, di sebuah pondok pesantren modern putri Ngabar Ponorogo. Jika saya dan teman-teman ditanya soal pelajaran yang kami sukai, pilihan itu jatuh pada 2 opsi yakni IPS atau Matematika? Meski keduanya sangat penting dipelajari, kami selalu menanti hari Senin, dimana hari senin usai istirahat, ada pelajaran IPS yang selalu ‘seru’.

Monolog
Pelajaran IPS atau Matematika memang selalu menjadi pilihan saya. Keduanya sangat penting dan memiliki pengaruh untuk meningkatkan prestasi bagi, secara akademik maupun non-akademik.

Belajar di pondok pesantren, memiliki seambrek aktivitas asrama dan mata pelajaran lebih banyak dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Wajar saja bila pelajaran ‘umum’ seperti IPS, Matematika, IPA, Geografi, Sejarah, bahkan Seni selalu kami tunggu-tunggu.

Saat duduk di bangku SMA kelas 1, merupakan masa-masa penting bagi saya untuk menentukan pilihan untuk kelas 2 dan 3 yakni fokus di IPA atau IPS, bukan hanya sekedar ingin mendapatkan NUN tertinggi, tapi saya juga ingin benar-benar menjatuhkan pilihan yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Akhirnya, pilihan itu jatuh pada pelajaran IPS dan masih berlanjut sampai kuliah memilih jurusan ‘ilmu sosial’.

Dialog
Sebagian teman mengatakan, duh nggak rugi kamu milih jurusan kok non-eksak?? Lho memangnya kamu ingin jadi apa, kok ambil jurusan IPS, nanti nyesel?. Dengan santai, saya jawab TIDAK.

Memang, kebanyakan orang akan bertanya-tanya begitu pentingkah pelajaran IPS? Banyaknya saling-silang pendapat tentang pentingnya mempelajari ilmu sosial ini tentu sangat dipengaruhi oleh ‘kapasitas’ sang guru dalam mengajar, mungkin saja yang mengatakan IPS tidak penting, ia menerima pelajaran IPS dengan setengah hati karena ‘diwajibkan’ membaca dan hafalan.
Namun sebaliknya, jika mengatakan bahwa IPS itu sangat penting, karena ia ‘menikmati’ cara belajar ilmu sosial yang sesungguhnya. Kemudian, akan berujung pada pengucapan kalimat “Saya butuh pelajaran IPS”.

Bermula dari IPS dan Pertunjukkan Drama
Guru mata pelajaran IPS kelas 1 SMA, nama beliau Ibu Supranti, telah  ‘berhasil’ membius kami dengan adegan-adegan drama yang sebenarnya sarat pelajaran sosial. Meski drama ini tidak diadakan tiap pekan, karena membutuhkan waktu yang panjang. Sebagai gantinya, setiap 3 tahun ada festival maha karya yang diberi nama Spectacular Show.  

Ini salah satu adegan dalam drama


Ada Drama, ada nyanyi, Be Creative Student ^^
  
Kami, tiap angkatan kelas, wajib menampilkan ‘kreasi seni’ yang ada unsur mata pelajaran, hasil belajar di kelas selama 3 tahun, semua mata pelajaran yang dikemas imajinatif dan kreatif di aula pertemuan sekolah.

Sesekali, ada drama khusus dari sang guru, yang ‘mendadak’ beliau lakukan sendiri, perpaduan antara dongeng, peraga, mimik, busana beliau yang membuat kami merasa terhibur ketika pelajaran.

Misalnya, saat masuk beliau menempelkan potongan-potongan Koran atau majalah bekas yang menunjukkan realita kemiskinan di Indonesia, kemudian beliau bercerita, berpuisi ria dan dibawakannya tape recorder yang mengalun nada minor sebagai tanda empati terhadap kondisi ‘kemiskinan’ di saat rakyat Indonesia telah merdeka.

Betapa kami faham betul, kancah perpolitikan disaat pemilu dari periode ke periode memiliki ‘cerita’ yang bagi anak muda biasanya terkesan ‘ah masa lalu atau urusan politik, urusan masa depan’.  Tapi tidak bagi kami, merasa terbangun rasa nasionalisme. Belum lagi, saat momentum kemerdekaan, kami dibagi menjadi 3 kelompok, kemudian menampilkan drama tentang proses kemerdekaan, mulai dari dari peristiwa Jepang dibom oleh sekutu, Rengasdengklok, sampai pembacaan teks proklamasi. Bagaimana tokoh para pahlawan dan segala bentuk tugas mereka harus kami perankan ‘sebaik mungkin’, seperti Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat, Sutan Syahrir, Mr. Ahmad Soebarjo, Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, Fatmawati dan lain-lain.  

Kaitannya dengan drama, saya jadi teringat sebuah artikel yang ditulis oleh A.S. Laksana di Surat Kabar Jawa Pos 30/09/2012 tentang seorang guru ilmu sosial di Amerika saat mengajarkan masalah perbudakan kepada murid-murid SD-nya dengan cara seolah olah dia sedang menggelar pertunjukkan drama. Ketika muris-murid datang, mereka menjumpai di pintu kelas sebuah pengumuman berbunyi : “Pertunjukkan hari ini adalah kisah pelarian para budak di terowongan kereta api”. Guru tersebut menghias ruang-ruang kelas dengan gambar-gambar tempo dulu. Dia mengenakan atribut masa itu, dan memutar lagu-lagu yang popular di zaman di zaman perbudakan itu dari gramofon. Murid - murid langsung dibawa surut ke situasi waktu itu.

Tentu, sekolah akan menyenangkan, jika pembelajaran disampaikan secara imajinatif seperti itu. Dan ini memang benar, melalui metode seperti ini saya akui tambah percaya diri dalam menyampaikan pendapat, padahal dulu yang namanya sekolah, saya malas dan takut kalau harus ditanya guru-maklum tipe pemalu-hehe, kini, mengajukan pertanyaan atau sekedar tampil ke depan jadi rebutan teman sekelas.

Nilai-nilai positif ‘menginternal’ dengan sendirinya, tanpa merasa saya ‘dipaksa’, saya lebih memahami pelajaran ketimbang sekedar hafalan tanpa faham sehingga mudah lupa, dan yang lebih penting lagi adalah titik sensitivitas, imajinasi dan kreativitas tumbuh alami di benak.

Bukan hanya saya, saat itu teman-teman juga merasa ‘enjoy’ belajar, suasana belajar menjadi ‘renyah’ dan menyenangkan. Tentang ujian ini, wah, kami juga ada sesi ujian lisan, disuruh cerita atau mendongeng, atau menyanyi lagu kebangsaan.

Kurikulum menuju Konsep Pendidikan yang Jelas
Cerita saya diatas, barangkali banyak berbicara tentang metode pembelajaran, tulisan ini bukan bermaksud mendukung atau tidak mendukung penghapusan sebagian kurikulum yang sudah menjadi agenda resmi kemendikbud tahun ini. Kebetulan saja, cerita saya memang berkaitan dengan pengalaman dengan guru IPS.

Meminjam istilah Kurikulum, yaitu perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, kurikulum memiliki peranan penting, baik untuk anak didik, guru, kepala sekolah, pengawas (supervisor), masyarakat, ataupun Pemakai Lulusan Instansi atau perusahaan yang memper-gunakan tenaga kerja agar dapat meningkatkan produtivitas.[1] 

Sejak tahun 1964, Perjalanan Kurikulum di Indonesia telah mengalami perubahan, Kurikulum Tahun 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi) merupakan nafas baru di dunia pendidikan sekaligus sebagai hasil usaha penyempurnaan program jangka panjang sepuluh tahun, kurikulum ini juga sebagai buah implementasi dari UU. No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum ini diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Model pembelajaranya lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas- tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Tentunya pemilihan kompetensi siswa selayaknya berorientasi pada pemilihan kompetensi yang sesuai, spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi dan pengembangan sistem pembelajaran.[2]
 
Mengamati proses perjalanan pendidikan di Indonesia, saya yakin pemerintah telah berupaya  sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik untuk pendidikan Indonesia. Hal ini tampak pada semangat pemerintah dalam pengolahan kurikulum sehingga terjadi pergantian kurikulum yang begitu sering. Bahkan, di akhir tahun 2012 sekarang masih dalam proses ‘merubah’ kurikulum atau menghapus beberapa mata pelajaran.

Satu hal yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini, kurikulum yang akan diajarkan kepada anak didik sekarang, sebenarnya bukan semata-mata menjadi ‘beban’ kepada mereka di sekolah, namun kurikulum juga saya harapkan dapat mewakili sebuah jawaban dari “apa” yang seharusnya diajarkan untuk menyiapkan manusia-manusia Indonesia yang mampu berkontribusi maksimal untuk kemajuan bangsanya kelak???.

Kurikulum pendidikan, seharusnya dirancang untuk memberikan pengalaman-pengalaman yang memancing adanya keunggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, tanpa perlu menghilangkan sebuah hal yang lebih penting yakni pendidikan yang menonjolkan kreativitas dan intelektualitas.

Adapun beberapa usulan terkait dengan kualitas kurikulum kedepan, antara lain
  • Kurikulum kedepan dapat bersifat praktis dan sesuai dengan ciri dan karakteristik daerah bersangkutan. contoh, Bali yang terkenal dengan konsep pariwisatanya haruslah menekankan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan ciri dan karakteristik masyarakat Bali itu sendiri, seperti pengembangan Bahasa Inggris, Jepang dan lainnya disertai dengan memupuk jiwa seni yang tinggi, bukan dalam artian orang Bali harus menjadi tukang ukir ataupun pelukis. Sebaliknya pendidikan di Kalimantan haruslah juga dengan keadaan geografis atau ciri budaya masyarakat Kalimantan, sepeti pendidikan dengan konsep pertambangan atau pemanfaatan hasil-hasil hutan. Sehingga sangat tepat di Kalimantan konsep pendidikan nasional diarahkan untuk mencetak ahli-ahli di bidang pertambangan dan pemanfaatan hasil hutan, setiap daerah di Indonesia akan memiliki ciri khas tersendiri dalam bidang pendidikan.
  • Kurikulum dengan berbasis muatan lokal yang berdasarkan karakteristik daerah. Pertama, memperbanyak pembukaan sekolah ketrampilan. Konsep ini berhasil dilaksanakan di Jepang. Konsep pendidikan semacam ini menuntut bahwa sistem pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas dan bukan kuantitas. Selama ini yang terjadi di Indonesia adalah pendidikan diorientasikan pada kuantitas yakni seberapa banyak sarjana atau lulusan SMU yang dicetak.
  •  Fokus pada orientasi pendidikan nasional Indonesia kedepan menekankan pada pentingnya kualitas manusia Indoensia, bukan hanya mencetak banyak sarjana yang ‘miskin ilmu dan akhlaq’.[3] 

Meretas Guru Berkualitas
         
Guru yang penuh dengan cinta mengisi ruang yang ditinggalkan orang tua yang bekerja dan kurang dapat mencurahkan perhatian yang cukup untuk anak mereka. Guru tidak hanya mengajar, mereka bisa menjadi seseorang yang penting yang membantu individu untuk tumbuh, mengerti dunia dan mengerti diri mereka sendiri. 
(charles platt-novelis fiksi sains)

          Bagi saya, kisah guru IPS yang saya ceritakan diatas, beliau adalah sosok guru yang telah ‘berhasil’ memberikan motivasi buat saya dengan gaya yang ‘khas’. Saya telah menemukan, substansi dari belajar di kelas, hingga kemudian saya memahami diri dan lingkungan dengan baik, tahu bagaimana saya harus mengembangkan diri sesuai dengan minat dan kemampuan. Dengan metode pembelajaran yang aktif, saya mampu mengkomunikasikan isi pikiran saya kemudian menyampaikan kepada khalayak. Saya yakin, kualitas kurikulum sebaik apapun tanpa dukungan guru ‘kreatif’, belajar tidak akan menyenangkan.

‘Meniru’  gaya guru kreatif di era teknologi
Di tengah kemajuan dunia teknologi dan komunikasi saat ini, memang tidak seharusnya seorang guru gagap teknologi (Gaptek). Namun dari tiga juta guru yang tersebar di Indonesia saat ini, mungkin hanya 20% saja yang benar-benar menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi. Padahal sejatinya juga sudah ada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Guru yang jelas-jelas mengamanahkan seorang guru agar mampu menggunakan Teknologi Informasi (TI) dalam proses pembelajarannya.

Beberapa bulan lalu, saya menyaksikan Program Metro TV Kick Andy pada hari Jumat, 11 Mei 2012 21:30:00 WIB kembali menampilkan guru-guru hebat dan kreatif, antara lain :


  1. Joko Triyono misalnya. Guru SMA Negeri 1 Prembun, Kebumen, Jawa Tengah, menciptakan software atau piranti lunak berupa musik gamelan
  2. Heru Suseno. Guru SMA Negeri II Madiun, Jawa Timur, menciptakan animasi virtual tentang ilmu fisika.
  3. Nura Uma Anissa. Guru Taman Kanak-Kanak Islam Al Azhar 22, menciptakan alat peraga berupa Animasi Mari Mengenal Indonesia.
  4. Estu Pitarto. Guru SD Islam Al Azhar 14 Semarang, Jawa Tengah, menciptakan software animasi yang mengangkat kebudayaan Jawa yang diberi judul ”Ayo, Sinau Aksara Jawa” atau Ayo, Belajar Huruf Jawa.
Negara yang maju adalah negara yang memprioritaskan pendidikan dan menghargai para gurunya. Lahirnya Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sangat diharapkan menjadi payung hukum yang menaungi dan menjadi garansi terhadap masa depan guru di Indonesia. Karena di tangan cerdas para guru Profesional inilah kemajuan Indonesia bisa diraih.[4] 

Insfrastruktur Pendidikan Kini dan Nanti
Infrastruktur sekolah yang rusak, tentu menjadi penghambat proses belajar mengajar. Bulan Februari 2012, sebanyak 194.000 ruang kelas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), di Indonesia rusak berat. Jelaslah betapa infrastruktur pendidikan di negeri ini masih terkendala. Jumlah itu berdasarkan data yang telah diverifikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.[5]

Potret dunia pendidikan di daerah terpelosok biasanya lebih ‘menyedihkan’,  bertolak belakang dengan besarnya anggaran pemerintah pusat. Contohnya pada tanggal 29 Agustus 2012 diberitakan di sini, bahwa kondisi gedung SDN, Pulau Aru Tiga, Maluku sudah keropos termakan usia, bahkan nyaris roboh. Gedung sekolah yang dibangun pada 1967 ini, belum pernah direnovasi meski sudah diajukan berulang kali.

Seiring bertambahnya anggaran pendidikan dari tahun ke tahun, kualitas pendidikan baik kurikulum, guru maupun infrastruktur seharusnya bisa ditingkatkan. Adanya manajemen yang bagus, penetapan sasaran dan implementasi yang tepat serta tidak terjadi penyimpangan di manapun, pentingnya pembangunan infrastruktur mengingat semakin berkembangnya informasi saat ini untuk turut mendukung kualitas sekolah di Indonesia.

Epilog
Sekelumit permasalahan tentang pendidikan seperti tidak seimbangnya kualitas dan kuantitas guru, perubahan kurikulum yang masih menjadi polemik ataupun kurang meratanya infrastruktur pendidikan di seluruh pelosok tanah air. Saya yakin, kita masih punya harapan bagi Indonesia, bersama-sama memberikan yang terbaik, apa yang kita punya dan apa yang kita bisa. Sebagai guru, teruslah mengasah kompetensi, memperkaya metode pengajaran dan menanamkan karakter pada anak didik. Untuk pemerintah, masih banyak PR yang harus diselesaikan, terutama mengenai konsep pendidikan yang jelas. Sebagai orang tua yang 'menitipkan' anak saya di sekolah, saya memiliki harapan yang begitu besar, kelak anak-anak saya dapat memahami diri dan lingkungan, serta dapat mengembangkan potensi sesuai minat kemampuan. Sebagaimana, bu Supranti, guru saya, melalui 'gaya pengajarannya', saya memahami 'substansi' belajar yang sesungguhnya.

Spesial, Terimakasihku untuk guruku
Guru, kini kurajut mimpiku dari benang-benang yang kau berikan dulu. Dengan sadar atau tidak, kau begitu menyayangi kami, meski tak terbayar dengan gaji atau tunjangan hidup sekalipunn, dengan penuh ikhlas kau berikan benang ilmu itu untuk kami rajut, hingga suatu saat nanti, karya indah akan dapat kami persembahkan untuk bumi pertiwi.

Guru, ada rangkaian penyesalan yang dulu kami lakukan
kami ingat betul, kami memilih asyik bermain dan ngobrol saat pelajaran, ketimbang masghul mendengar ‘celotehan’mu tentang cas-cis-cus pelajaran. Tumpukan tugas atau pekerjaan rumah yang lalai kami kerjakan hanya kau jawab dengan senyum dan pemakluman. Disaat digelar ujian dadakan, kami serentak menjawab, yaaaaaaaah!!

Wahai, guru sang pejuang pendidikan
Sungguh, penyesalan tiada guna, kami berjanji asa dan semangat belajar akan terus kami tanam dalam jiwa. Sebagai bentuk tanda terimakasih kami padamu, hingga kami mampu membuatmu bangga. Semoga sinar yang terpancar darimu tak akan pernah redup. 



Daftar Pustaka :

 [1] Kurikulum
 [6] A. S Laksana. Artikel yang berjudul Asa Minimum Pada Pendidikan.
      di Surat Kabar Jawa Pos, Minggu 30 September 2012



Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes Blog Indonesia Berkibar  



          

10 komentar:

  1. Siip mbak nurul habeebah... suxes ya..

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Iya Rin, yang baik-baik jadi guru, tingkatkan kreativitasmu ^^

      Hapus
  3. Makadih mb Zie, sering2 mampir ^^

    BalasHapus
  4. Wahahaaaa.... lengkap dan puanjang. Ada daftar pustaka juga. Aku belum pernah ngeblog serius macam ini. Perlu dicoba supaya tidak ngeblog asal2an. Thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berusaha memaksimalkan tulisan mb,maklum kan buat kontes, kalo lagi cuap-cuap, baru 'apa adanya'hehe. masih belajar juga

      Hapus
  5. wah gaya penulisan yang mewakili kemampuan penulis banget :) nice share ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nice comment buat nambah semangat.tahnks ^^

      Hapus
  6. jadi terkenang dulu, teteh untuk pelajaran ips dan matematika/ekxatct kurang suka. Tapi untuk nilai gak jelek2 amat sih. Salam blogger

    BalasHapus
  7. Lha suka pelajaran apa teh?makasih udah mampir

    BalasHapus

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...